3 Model Sekolah yang menjadi pilihan




Munculnya pandemi COVID 19  memberikan dampak pada berbagai bidang termasuk pendidikan. Sejak Maret 2020 kegiatan pembelajaran sekolah dilaksanakan di rumah. Hingga saat ini masuk pada bulan ketiga belajar di rumah bertepatan dengan akhir tahun ajaran baru. Keadaan ini memaksa semua pihak mengubah strategi pembelajaran dan ujian akhir. Pemerintah mengeluarkan kebijakan kegiatan pendidikan, guru dan sekolah menyiapkan strategi agar pembelajaran dapat terlaksana, orangtua mendampingi  anak belajar di rumah. Semua berubah dengan cepat,  harus dihadapi dan harus diatasi dengan sabar dan penuh tanggungjawab.

Belajar di rumah
Belajar di rumah selama tiga bulan terakhir menimbulkan reaksi beraneka ragam. Ada orangtua merasa kewalahan mendampingi anaknya belajar di rumah sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa keberadaan guru sangat penting dalam pendidikan anaknya. Adapula anak yang merindukan gurunya dan ingin kembali belajar di sekolah. Lihat curhatan emak-emak dan anak-anak di medsos kadang bikin terharu.

Kembalinya Fungsi Keluarga dalam Mendidik Anak
Selain itu, ada pula orangtua merasa terpanggil kembali perannya sebagai keluarga tempat belajar pertama bagi anak-anaknya, menggunakan istilah kembali ke fitrohnya. Membangun kebiasaan baru dengan jadwal yang telah ditentukan mulai bangun tidur hingga akan tidur. Kebersamaan orangtua dan anak dalam berbagai kegiatan yang menyenangkan. Berdoa sebelum melakukan kegiatan, bersyukur dan beribadah bersama di rumah. Keluarga menjadi tempat pembentukan pertama kepribadian anak. Pola asuh yang diterapkan orangtua akan berpengaruh dalam menanamkan nilai-nilai karakter  pada anak.

Pemanfaatan Teknologi untuk Pembelajaran
Pendekatan teknologi terpaksa digunakan untuk keperluan belajar di rumah. Semua platform seoptimal mungkin digunakan untuk belajar di rumah. Mulai dari penggunaan media televisi, aplikasi video conference, dan yang paling praktis dan mudah tentu saja  whatsApp, semula hanya untuk kegiatan komunikasi saja, sekarang digunakan untuk kegiatan belajar.  Komunikasi pembelajaran antara guru, orangtua dan siswa. Mendadak hp penuh dengan setorang tugas-tugas siswa pada grup sekolah.

Kemajuan teknologi terasa sekali manfaatnya dalam situasi seperti ini, saat semua orang harus tetap berada di rumah, namun aktivitas rutin tetap harus berjalan sebagaimana biasanya. Tentu saja sangat membantu dan mempermudah urusan semua orang. Kita bisa menyaksikan kecanggihan teknologi yang sudah bisa dimanfaatkan anak-anak sekolah mulai dari menggunakan google classroom untuk kegiatan pembelajaran, google form untuk menjawab soal ujian, dan lain-lain. Guru dituntut kreatif untuk menggunakan teknologi yang mudah dijangkau semua siswanya.

Namun, ada pula siswa dan guru yang tidak memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kegiatan pembelajaran karena  keterbatasan sarana dan prasarana pendukung. Kreativitas guru kembali diuji. Kegiatan pembelajaran harus tetap berjalan. Tanggungjawab mendidik dan keterbatasan sarana prasarana tidak menyurutkan seorang guru untuk memberikan pembelajaran pada siswanya meski harus keliling rumah siswa.  Sungguh luar biasa.

Tahun Ajaran Baru pada Masa Pandemi COVID 19
Masalah pendidikan pada masa pandemi COVID 19 berdampak pula pada kegiatan tahun ajaran baru di sekolah. Berbagai suara muncul antara mendukung untuk kembali ke sekolah pada bulan Juli dan suara mendukung untuk menunda tahun ajaran baru hingga awal Januari 2021. Masing-masing mempunyai alasan yang kuat.

Kegiatan belajar ditambah satu semester sebenarnya pernah terjadi pada masa lalu. Mungkin ada yang ingat ketika masih sekolah  tingkat SD, SMP atau SMA. Saya ingat betul ketika masih sekolah  tingkat SD, saya mengalami penambahan satu semester belajar. Oleh karena itu, pada raport hasil belajar SD ada penambahan halaman nilai untuk satu semester. Nah, siapa yang pernah mengalami hal ini? Mungkin kita seumuran.

Situasinya tentu berbeda dengan pada masa pandemic COVID 19 saat ini. Yang menjadi pertanyaan, apakah belajar di rumah ditambah satu semester atau liburnya yang ditambah satu semester? Nah, ini yang perlu dipikirkan bersama. Penambahan satu semester diterapkan tentu akan berpengaruh terhadap  berbagai aspek lainnya.

Lanjut belajar di rumah atau di sekolah?
Pengalaman belajar di rumah pada masa pandemic COVID 19 sampai bulan ketiga yang bertepatan dengan akhir tahun ajaran menimbulkan berbagai suara untuk melanjutkan belajar di rumah dan suara untuk belajar di sekolah dengan protocol yang dianjurkan, yaitu pakai masker dan jaga jarak. Alasan keamanan dan kesehatan anak-anak membuat orangtua tidak rela melepas anak untuk belajar di luar rumah atau di sekolah. Oleh karena itu muncul gagasan dari orangtua agar anak-anak mengikuti pembelajaran homeschooling agar bisa tetap belajar di rumah.

Namun, sependek pengetahuan saya konsep belajar homeschooling dengan belajar di rumah versi masa pandemi COVID 19 adalah dua hal yang berbeda,  dari segi pengelolaan pembelajaran maupun pembiayaannya. Belajar di rumah pada masa pandemic COVID 19 sebenarnya pendidikan formal yang dilaksanakan di sekolah, dengan mata pelajaran dan guru yang sudah ditentukan jadwalnya. Namun karena keadaan pandemi COVID 19, terpaksa system pembelajaran formal tersebut dilaksanakan di rumah masing-masing. Guru menyampaikan pembelajaran dengan bantuan teknologi, media komunikasi dan televisi. Guru tetap melakukan pemantauan dan evaluasi hasil belajar siswa.

Sedangkan homeschooling, konsepnya memang system pembelajaran yang dilaksanakan di rumah, tapi tetap menggunakan kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, anak-anak yang mengikuti homeschooling dapat mengikuti ujian dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Lalu, apakah homechooling ini masuk kategori pendidikan informal, formal atau nonformal? Apakah biayanya sama dengan biaya di sekolah? Nah, ini yang perlu dipahami orangtua bila ingin anaknya mengikuti homeschooling.

Satu lagi istilah belajar di rumah yang digunakan yaitu pendidikan informal atau lebih dikenal pendidikan keluarga. Orangtua terutama ibu adalah tempat belajar pertama bagi anak, belajar berbicara, berjalan, berperilaku, tatakrama, dan sebagainya. Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar.

Dalam bidang pendidikan, masa pandemic COVID 19 memberikan dampak yang luar biasa. Kesehatan yang harus selalu dijaga sesuai protocol, memakai masker dan menjaga jarak serta mencuci tangan. Keluarga berfungsi kembali sebagai tempat belajar anak-anak. Pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan pembelajaran. Alternatif model pendidikan yang bisa dipilih orangtua, belajar di rumah, di sekolah atau di lingkungan masyarakat. 
























5 komentar

  1. Kerem Mbak.. Mengangkat yang kekinian

    BalasHapus
  2. Saya setuju banget soal Kembalinya Fungsi Keluarga dalam Mendidik Anak. Saya merasa langsung butuh ilmu lebih banyak lagi sebagai orang tua, agar anak-anak bisa memiliki panutan yang baik sepanjang hidupnya.

    BalasHapus
  3. Mengembalikan fungsi keluarga ... saya suka poin ini.. makasih ya

    BalasHapus
  4. Pemanfaatn teknologi kerasa banget saat pandemi Dan anak anak bersekolah. Tak bisa dipungkiri, sbg orang Tua harua melek teknologi, duh kalau gaptek sekolah saat pandemi akan terhambat...

    BalasHapus
  5. Mantap mbak, sebuah situasi yang mulai mengharuskan kita lagi sebagai orangtua untuk lebih dekat dengan anak yang mungkin selama ini hanya kita serahkan pada guru & hanya menerima hasil yang udah jadi ketika pembagian raport

    Kita mulai menyadari kalo mendidik itu tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan

    BalasHapus